Poster Laskar Pelangi

Laskar Pelangi

20082j 4mIndonesiaSU771 pembaca1 menit baca

Nilai redaksi

8.0

Sebuah sekolah dasar di Belitung terancam ditutup kalau muridnya kurang dari sepuluh. Kisah tentang guru yang bertahan dan anak-anak yang menolak menyerah pada keadaan.

Sinopsis Laskar Pelangi

Ditulis Redaksi • 30 Agustus 2026

Di sebuah pagi di Belitung, SD Muhammadiyah terancam bubar sebelum tahun ajaran dimulai. Aturannya jelas: bila murid baru tidak mencapai sepuluh orang, sekolah itu harus ditutup. Sembilan anak sudah duduk menunggu, dan Pak Harfan bersiap mengumumkan kabar buruk ketika Harun datang terlambat dan menggenapkan hitungan.

Sepuluh Anak dan Dua Guru

Bu Muslimah mengajar dengan papan tulis yang retak, atap yang bocor, dan kapur yang harus dihemat. Muridnya datang dari keluarga buruh tambang timah dan nelayan; sebagian berjalan berkilo-kilometer, melewati jalur yang harus berbagi dengan buaya. Ikal, si narator, jatuh cinta pada gadis penjaga toko kelontong hanya karena melihat kukunya. Lintang, anak nelayan, ternyata punya kepala matematika yang jauh melampaui usianya. Mahar menyimpan bakat seni yang aneh dan tak terduga.

Sepanjang film, sekolah kecil ini terus dibandingkan dengan SD PN Timah di seberang — sekolah anak-anak pegawai perusahaan, dengan seragam rapi, gedung bagus, dan fasilitas lengkap. Perbandingan itu tidak pernah diucapkan sebagai kemarahan, hanya diperlihatkan.

Dua Kemenangan

Titik balik pertama datang saat karnaval, ketika ide Mahar membuat rombongan Laskar Pelangi menang di luar dugaan siapa pun. Titik balik kedua adalah lomba cerdas cermat, tempat Lintang membuktikan bahwa kecerdasan tidak menunggu gedung yang layak.

Namun film ini menolak jadi dongeng. Ayah Lintang meninggal, dan anak paling cerdas di antara mereka harus berhenti sekolah untuk menghidupi adik-adiknya — adegan yang membuat film ini dikenang justru karena kepahitannya.

Warisan Filmnya

Diadaptasi dari novel Andrea Hirata, Laskar Pelangi menjadi salah satu film Indonesia terlaris dan sempat mengubah Belitung menjadi tujuan wisata. Di luar angka penonton, film ini bertahan karena caranya memotret pendidikan bukan sebagai jalan pintas menuju sukses, melainkan sebagai hak yang harus terus diperjuangkan orang-orang biasa.

Bagikan:WhatsAppTelegramXFacebook

Film Serupa

Dipilih dari genre yang sama